Minggu, Juni 14, 2009

Pernak-pernik Gelar Akademik

Orang-orang yang beruntung bisa mengenyam bangku pendidikan tinggi sudah tak asing lagi dengan istilah jenjang atau strata yang membedakan tingkat pendidikan di perguruan tinggi. Yang paling populer tentu S1 alias Strata 1. Selain itu ada jenjang S2, dan S3. Diluar itu umumnya yang dikenal adalah D3 dan D4. D disini merupakan kepanjangan dari Diploma. D1 dan D2 juga sebenarnya ada, tetapi tidak terlalu lazim ditemui di perguruan tinggi. Dari jenjang-jenjang yang saya sebutkan di atas, hanya S1 hingga S3 yang umumnya memberikan pencantuman gelar di depan atau belakang nama sang lulusan yang bersangkutan. Pencantuman embel-embel yang menemani nama lengkap seseorang tersebut memberi kesan istimewa dan bagi sebagian orang sangat mempunyai nilai prestisius sehingga tak heran kalau kemudian banyak orang yang tujuan kuliahnya hanya demi mengejar gelar itu saja.


Tidak semua orang cukup beruntung bisa menikmati pendidikan di perguruan tinggi. Banyak yang harus melepas impiannya untuk kuliah hanya karena ketiadaan biaya sehingga seusai menyelesaikan bangku sekolah menengah atas, mereka langsung bekerja demi membiayai hidup meski acapkali tak ada cukup ketrampilan yang dimiliki sebagai modalnya. Sementara itu bagi yang beruntung bisa kuliah ternyata memiliki motivasi dan proses yang berbeda-beda dalam menjalaninya. Ada yang motivasinya benar-benar ingin memperdalam bidang sesuai dengan minat dan bakatnya. Ada pula yang sekedar mengalir begitu saja tanpa motivasi yang jelas, atau ada yang lebih karena nafsu untuk memperoleh gelar demi bisa menghiasi namanya kelak serta berstatus sarjana agar membedakannya dari sekedar lulusan SMA.


Diluar istilah sarjana ada lagi yang namanya pasca sarjana. Sesuai namanya, pasca sarjana berarti sesudah atau melampaui yang sarjana. Dengan kata lain, tingkatnya tentu sudah berada di atas sarjana. Kalau kuliah sarjana butuh biaya yang besar dan tak semua orang bisa melakukannya, maka kuliah pasca sarjana biayanya jauh lebih membengkak dan berbanding terbalik dengan persentase jumlah mahasiswanya yang justru jauh lebih sedikit. Apalagi jenjang doktoral yang diatas pasca sarjana, tentu biayanya lebih melangit. Sementara jumlah orang yang mengenyam pendidikan setinggi itu faktanya tergolong paling minim dibanding jenjang-jenjang pendidikan dibawahnya. Di atas doktoral sebenarnya masih ada yang namanya pos-doktoral, tapi lazimnya sudah tak ada gelar tertentu yang disematkan bagi orang yang berkecimpung di dalamnya.


Perkuliahan strata satu merupakan yang paling umum ditemui dan karena mahasiswa yang menekuninya rata-rata masih baru lulus dari sekolah, maka biasanya tidak terlalu ada faktor khusus yang menjadi alasan untuk menjalani kuliah tersebut. Lain halnya dengan perkuliahan tingkat strata dua ke atas. Di area ini biasanya ada faktor-faktor tertentu yang menjadi pertimbangan terlebih dahulu sebelum seseorang memutuskan untuk menempuh pendidikan. Faktor biaya menjadi yang paling pertama dipertimbangkan karena butuh berjuta-juta rupiah untuk bisa menempuh dan menamatkan pendidikan di tingkat itu. Maka tak heran banyak mahasiswa tingkat S2 dan S3 yang kuliahnya bukan dengan biaya sendiri tetapi dari beasiswa yang diperoleh lewat institusi tertentu.


Faktor kemampuan intelektual menjadi salah satu yang penting juga untuk dipertimbangkan masak-masak. Tidak seperti perkuliahan S1 yang sistem belajarnya masih cukup dekat dengan bangku sekolah, jenjang-jenjang diatasnya benar-benar sudah membutuhkan pemikiran yang lebih mendalam dan tentunya tingkat intelektualitas yang tidak sembarangan. Tetapi bukan berarti yang bergelar S2 pasti lebih pintar dari S1. Karena faktanya ada orang bergelar S2 yang wawasan keilmuannya masih kalah dibanding lulusan S1. Bisa saja yang bergelar S2 itu hanya lebih beruntung karena ada biaya untuk melanjutkan studi, dan bukan semata bergantung faktor intelektualitas.


Selain dua faktor diatas, masih ada faktor-faktor lain yang menentukan bagi seseorang untuk kuliah S2 dan S3. Minat menjadi salah satunya. Orang yang intelektualitasnya tinggi belum tentu berminat melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Sebaliknya, yang kemampuan intelektualitas pas-pasan mungkin saja berminat. Kemudian faktor kebutuhan juga sering menjadi pertimbangan bagi seseorang dalam memutuskan melanjutkan studi ke jenjang pasca sarjana dan selanjutnya. Bagi yang berkecimpung di bidang akademis, menempuh pendidikan yang makin tinggi menjadi salah satu kebutuhan, sehingga banyak kampus yang tak segan membiayai para pengajarnya untuk belajar lagi agar wawasan keilmuannya kian berkembang dan mendalam.


Yang tak bisa diabaikan adalah faktor adanya kesempatan atau waktu untuk belajar. Seringkali orang yang sudah sibuk bekerja, pergi pagi pulang malam, tak lagi sempat untuk belajar, sehingga jelas melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi hampir tak mungkin diwujudkan. Jadi lima faktor ini, yaitu biaya, intelektualitas, minat, kebutuhan, dan kesempatan, menjadi lima hal penting yang sering dijadikan bahan pertimbangan bagi kebanyakan orang untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi, khususnya ke jenjang S2 dan S3. Maka menjadi tidak fair kalau kita langsung mengklaim bahwa orang-orang yang hanya bergelar S1 tidaklah sepandai yang bergelar S2 dan S3. Karena faktanya intelektualitas semata tidak bisa dijadikan ukuran seperti yang sudah saya sampaikan diatas.


Akan tetapi, terlepas dari lima faktor yang telah disebutkan, hal yang bisa dipertanyakan adalah apa yang sesungguhnya menjadi motivasi seseorang dalam memutuskan melanjutkan tingkat pendidikannya dari S1 ke S2 dan seterusnya? Apakah memang dari konteks keilmuan, orang tersebut membutuhkan pengembangan kemampuan dan wawasan? Ataukah semata-mata hanya karena keinginan untuk bisa menambah panjang gelar di depan atau belakang namanya? Dengan kata lain, apakah kebutuhan akan ilmu pengetahuan ataukah kebutuhan akan gelar dan kebanggaan yang dicari? Orang-orang yang memang mencintai ilmu pengetahuan dan punya semangat dan kemauan belajar tinggi tidak akan pernah bisa dibatasi oleh sepotong atau dua potong gelar. Karena tanpa iming-iming gelar pun mereka akan dengan sendirinya belajar dan belajar. Sebaliknya, orang-orang yang hanya menyukai kebanggaan akan gelar tidak pernah benar-benar belajar. Yang terjadi seringkali mereka hanya tinggal membeli dengan harga tertentu kepada pihak yang memanfaatkan peluang dari kehausan manusia pemburu gelar. Maka berjajarlah gelar S1, S2, dan S3 di depan atau di belakang nama lengkap orang yang bersangkutan. Makin menumpuk akan makin percaya dirilah orang itu. Padahal praktek semacam itu hanyalah penipuan terhadap diri sendiri dan orang lain. Saya pribadi mungkin lebih baik tak punya gelar apa-apa daripada membeli gelar hanya demi gengsi dan kebanggaan palsu semata. Tak perlu S2 dan S3 hasil rekayasa. Cukuplah S4 saja. Yah,….suka-suka saya saja.


Serpong, 14 Juni 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar